Thursday, May 9, 2019

Untuk satu pusaka hijau: pengalaman dari kota madya Hoi An

  9nagaasia       Thursday, May 9, 2019
Permasalahan mengkonservasikan pusaka yang berkaitan dengan peningkatan pariwisata dengan berkaitan adalah satu pengarahan yang strategis baik di Vietnam saja ataupun di banyak negara lain. Dengan karakter sendiri dari bagian pariwisata, pekerjaan mengkonservasikan pusaka jadi lebih penting daripada yang sudah-sudah. Terutamanya buat kota madya Hoi An, satu diantara titik jelas dari kegiatan wisata saat ini. Hari Pusaka Budaya Vietnam (23 November) tahun ini memiliki topik “Budaya wisata hijau, titik jumpa antara manusia serta alam sekitar”.

Sektor kota kuno Hoi An

Pada awal beberapa tahun 90-an, Hoi An ialah bidang kota kuno dyang penduduknya beberapa orang miskin. Banyak project di antara hampir 1.000 rumah kuno serta lebih dari 20 situs peninggalan riwayat yang terbagi dalam balai desa, pagoda yang telah berumur beberapa ratus tahun sedang ada dalam kondisi degradasi bangunan yang dapat roboh setiap saat. Kondisi yang popular dalam rumah-rumah kuno ini adalah ada dari 4 sampai 5 generasi yang hidup dengan ketentuan kegiatan begitu susah. Beberapa ratus surat keinginan dari rakyat sudah dikirim ke pemerintahan kota madya untuk melakukan perbaikan rumah kuno. Ketua Komite Rakyat kota madya Hoi An pada saat itu adalah bapak Nguyen Su sudah sempat tanda-tangani serta menetapkan satu naskah yang lalu ia masih berpikir-pikir, memandang sendiri jadi orang yang ttidak bertanggung-jawab, tetapi untung sekali, sebab pada saat itu tidak ada orang mana saja sebagai korban keruntuhan rumah. “Membangun satu rumah baru tambah murah 5 kali lipat terbanding dengan melakukan perbaikan satu rumah lama. Orang ingin melakukan perbaikan rumah menurut skema rumah kekinian, saya tidak sepakat. Rakyat sudah mengatakan pada saya jika bapak agar mencatat kata janganlah memperkenankan reparasi rumah pada naskah ini, jika rumah roboh, bapak harus menanggung tanggung-jawab. Saya sudah mencatat jika “setuju reparasi tetapi harus menurut rumah asli”.

Desakan kehidupan sudah membuat banyak kepala keluarga di kota madya Hoi An tanpa ada memperdulikan perintah larangan masih dengan menyengaja menghapuskan rumah kuno untuk bangun rumah type baru hingga membuat bapak Nguyen Su harus keluarkan perintah desakan. Dalam melawan kondisi itu, bapak Nguyen Su pahami jika tidak tetap terjebak pada melarang serta mepaksa, sebab yang kehilangan bukan sekedar pusaka saja tetapi adalah hati rakyat. Untuk pecahkan permasalahan konservasi serta perubahan, Komite Rakyat kota madya Hoi An memandang jika prioritas pertama adalah harus memperkenankan rakyat nikmati keuntungan dari pusaka. Prioritas ke-2 adalah harus memberi pertolongan dana pada rakyat untuk melakukan perbaikan rumah sesuai rumah asli. Selain itu, kebijaksanaan menyerap kehadiran pelancong serta merangsang rakyat lakukan usaha pada beberapa barang untuk kebutuhan pariwisata yang lahir dengan terorganisasi serta selektif untuk menolong rakyat bukan sekedar merubah kehidupan dan juga merubah pandangan. “Pada awalannya, rakyat sukses mendapatkan uang, lalu, saat jadi kaya mareka makin lihat jika nilai yang dibiarkan oleh nenek moyang mareka begitu besar. Dia bukan sekedar adalah kebanggaan, dan juga memberi kebutuhan praksis pada mereka. Oleh karenanya, mereka akan berupaya melestarikan serta menjaga pusaka”.

Pada pertemuan dengan kami di rumah kuno punya marga, bapak Thai Te Buu di jalan Tran Phu, kecamatan Minh An, kota Hoi An bercerita mengenai saat-saat yang susah dalam mencari nafkah dengan beberapa kejuruan jadi pengangkut serta penjual beberapa barang di berjalan-jalan untuk menghidupi keluarga. Saat ini, saat pariwisata berkembang, cukup dengan satu toko penjahitan yang luasnya 50 mtr. persegi punya anak perempuannya sudah jadi sumber penghasilan inti untuk menolong keluarganya dapat hidup cukuplah sandang, cukuplah pangan serta ada juga uang untuk dengan Negara melakukan perbaikan rumah kuno punya marga. Banyak kebijakan bebas pajak pada awalannya untuk menolong rakyat dalam usaha sudah merubah kehidupan banyak keluarga di bidang kota kuno. Pham Van Khoa, pemilik toko lampu berlapis di jalan Tran Phu, nomer 122 bercerita: “Pada waktu subsidi negara, keluarga saya mejumpai banyak kesukaran, harus lakukan banyak pekerjaan. Lalu, saat ada pelancong, kehidupan keluarga saya baru jadi baik. Semua keluarga saya hidup dengan jual lampu berlapis, pendapatannya baik. Saya rasakan begitu senang sebab tugasnya ringan”.
Dari kondisi yang terhuyung-huyung sebab pusaka, saat ini, kehidupan rakyat kota madya Hoi An sudah alami pergantian serta bisa mendapatkan keuntungan dari pusaka semacam itu. Hal tersebut menolong mereka lebih menyukai serta menghargai pusaka warisan oleh nenek moyang mereka. Mereka bukan sekedar berupaya melestarikan, dan juga membuat nilai-nilai baru buat pusaka.
logoblog

Thanks for reading Untuk satu pusaka hijau: pengalaman dari kota madya Hoi An

Previous
« Prev Post