Sunday, May 5, 2019

Pesta sajak desa Chua, satu segi budaya pedesaan Vietnam

  9nagaasia       Sunday, May 5, 2019
Desa Chua ialah desa yang lugas terdapat di kecamatan Son Cong, kabupaten Ung Hoa, peluaran kota Hanoi, tetapi dijelaskan kelompok fans sajak semua negeri jadi desa sajak, sebab di desa ini terdapat beberapa penggemar sajak serta asik membuat sajak. Dari desa Chua ini sudah ada banyak orang yang sudah kenamaan serta jadi penyair, anggota Asosiasi Pengarang Vietnam.
Pintu gerbang masuk desa Chua

Terdapat di tepian sungai Day, kota Hanoi Selatan, masyarakat desa Chua pada intinya hidup dengan lakukan usaha tani. Dari generasi ke generasi, golongan tani di sini tetap terkait dengan sawah, pohon padi, ubi, tetapi, jiwa mereka tetap penuh dengan perasaan optimisme serta asik dengan kesenian. Di pintu gerbang desa Chua saat ini masih terpamsang beberapa kata kuno “Vong-Tu-Nhap-Xuat”, berarti lihat huruf untuk keluar masuk desa. Menurut kakek Nguyen Nho Te yang sekarang telah berumur lebih dari 80 tahun, sudah lama, sajak serta huruf sudah jadi permasalahan spirituil yang tidak dapat kurang di desa Chua. “Desa Chua mempunyai satu yang diimpikan yakni ada tempat untuk menempatkan 4 katawarisan nenek moyang yakni Vong-Tu-Nhap-Xuat. Satu desa lihat huruf untuk keluar masuk adalah hal yang begitu bernilai”.

Bukan sekedar menyukai sajak, masyarakat desa Chua memiliki adat memakai sajak untuk mengemukakan kepribadian serta hal yang baik untuk mendidik anak-cucu, seperti yang disebutkan kakek Nguyen Nho Te adalah membuat manusia hidup lebih baik untuk kampung halaman. Saat berpeluang berkunjung ke desa Chua, pelancong dapat lihat beberapa hal yang baik yang dimanifestasikan dengan sajak yang ditempatkan di jalan desa. Oleh dampak waktu, pergantian cuara serta alam dapat membuat huruf-huruf itu kabur, tetapi makna sajak-sajak itu mungkin ada untuk selamanya dalam memory masyarakat desa Chua. Nguyen Xuan Hung, anggota Himpunan Sajak desa Chua memberitahu: “Kami menempatkan sajak untuk memberi pendidikan pada kebanyakan orang, dari orang lanjut usia sampai orang muda, khususnya adalah beberapa pemuda supaya kebanyakan orang melakukan langkah hidup yang berbudaya sesuai adat desa serta bangsa. Semua sajak itu diambil dari sajak ciptaan masyarakat desa Chua”.

Saat hadir ke semua tempat di desa Chua, hal yang gampang disaksikan adalah sajak sudah jadi beberapa yang tidak dapat kurang dalam kehidupan masyarakat. Dari orang lanjut usia sampai beberapa anak, dari balai desa sampai sawah, tanggul sampai tiap rumah yang kecil, dimanapun penuh dengan sajak. Oleh karenanya, kebanyakan orang yang sempat hadir kesini akan pahami kenapa desa ini bernama Desa Sajak. Semua masyarakat di desa menyukai sajak serta tahu membuat sajak. Masyarakat desa Chua sudah membuat beberapa ribu sajak serta diciptakan jadi 6 jilid sajak sendiri. Pergerakan membuat sajak di desa Chua telah ada lama, tetapi Himpunan Sajak desa Chua harus alami proses pemulihan baru seperti saat ini. Nguyen Gia tu, salah seseorang pertama yang memulihkan pergerakan membuat sajak di desa Chua ingatlah kembali: “Walaupun ialah kampung halaman yang mempunyai adat sajak, tapi telah aus sebab waktu peperangan, oleh karenanya, sampai tahun 1982 baru dipulihkan. Pada awalannya ada banyak orang yang menyukai sajak serta mereka bersama membuat pergerakan sajak. Lalu, di kelompok rakyat makin ada beberapa orang yang menyukai serta menyukai sajak”.
Himpunan Sajak desa Chua saat ini mempunyai hampir 100 anggota yang terbagi dalam semua faktor dari orang lanjut usia sampai pemuda serta wanita. Salah satunya, Nguyen Thu Trang, pelajar SMP Son Cong dipandang seperti anggota paling muda. Meskipun baru ikut jadi anggota Himpunan Sajak desa, tetapi ia sudah mempunyai sajak yang mendapatkan hadiah pertama di kecamatan Son Cong untuk umur pelajar dengan sajak yang dibikin untuk ibunya. Ia menjelaskan: “Saya baru jadi anggota kelub sajak desa. Saya ingin menjaga serta terima adat suka sajak di desa. Saya begitu menyukai ibu saya serta saya membuat sajak ini untuk ibu saya”.

Buat masyarakat desa Chua, mereka hadir pada sajak untuk mengatakan fikiran serta keinginan sendiri. Sajak-sajak yang dibikin oleh beberapa petani, beberapa besarnya menurut ilham, simpel serta lugas seperti kehidupan mereka sendiri keseharian. Ngo Manh Cuong, Kepala Himpunan Sajak desa Chua memandang: “Sajak desa Chua bukan dibikin untuk di pasarkan, tetapi pada intinya untuk mendidik serta mengajar anak-cucu dengan sajak. Umumnya, di hari Kamis malam tiap minggu ada program tayangan desa untuk membacakan sajak yang dibuat oleh masyarakat desa Chua. Sajak-sajak itu sudah hadir ke tiap rumah, ikut membuat perasaan tetangga”.
Sajak hadir pada masyarakat desa Chua dengan alami, alami banyak generasi serta waktu, sajak ciptaan masyarakat desa Chua masih membuat satu segi budaya yang indah di wilayah pedesaan. Sajak membuat jiwa manusia jadi simpati serta sama-sama menyatu, dari sana, lebih menyukai kehidupan.
logoblog

Thanks for reading Pesta sajak desa Chua, satu segi budaya pedesaan Vietnam

Previous
« Prev Post