Monday, May 13, 2019

Kesan-kesan pada kesenian multi-etnis dalam Festival Hue

  9nagaasia       Monday, May 13, 2019
Satu pesta yang cemerlang cemerlang, musiknya berkobar-kobar serta berwarna-warni corak budayanya. Itu perasaan dari semua pelancong saat hadir ke Festival Hue. Festival Hue sudah jadi satu merek kultural dalam hati pelancong luar negeri serta semua seniman-seniwati asing. Festival Hue 2014 menyerap keterlibatan dari 68 rombongan kesenian internasional yang hadir dari 5 benua untuk berbaur pada situasi pesta di wilayah ibu kota kuno Hue, merubah kota ini jadi tempat berhimpunnya serta interferensi dari semua kebudayaan.

Sembilan hari berlangsungnya Festival Hue 2014 (dari 12 sampai 20 April) ialah waktu dimana ibu kota kuno Hue yang tenang damai itu jadi berkobar-kobar dengan cahaya, musik serta semua program atraksi kesenian. Dari panggung di Istana Dalam sampai semua panggung di hawa luar di kota atau di beberapa daerah pedesaan serta wilayah pedalaman serta wilayah pelosok di kota Hue berjalan program-program atraksi yang dikerjakan oleh rombongan-rombongan kesenian domestik serta internasional.
Enam puluh delapan rombongan kesenian internasional, salah satunya terdapat beberapa rombongan yang berkaliber internasional seperti rombongan kesenian Bati-Holic dari ibu kota kuno Kyoto, Jepang, rombongan kesenian tradisionil Gugak Nasional dari Republik Korea, rombongan balet rakyat Guadalaajara dan sebagainya sudah mempertunjukkan tari-tarian tradisionil, dansa yang ciri khas dari tiap bangsa serta lagu rakyat pada beberapa pemirsa. Semua acara yang ciri khas ini bukan sekedar menarik beberapa pelancong, tetapi, beberapa seniman-seniwati langsung lakukan atraksi rasakan begitu suka pada pertunjukan-pertunjukan yang dikerjakan oleh rombongan-rombongan kesenian lain. Penari Cristian Andress dari rombongan kesenian Los Andes (Cili) menjelaskan: “Kami mempertunjukkan acara-acara kesenian kami, semua tarian tradisionil negara kami, oleh karenanya, Anda Sekaligus dapat dengan mata kepala sendiri melihat bagaimana atraksi kami. Kami berupaya semaksimal mungkin untuk mengabdi pemirsa Vietnam, beberapa orang yang memberi banyak simpati pada kami. Pada tahun ini, terdapat beberapa kebudayaan yang hadir dari beberapa negara di Amerika Latin, contohnya, Cili, Kolombia dan sebagainya. Kami begitu ingin memanifestasikan tari-tarian untuk mengabdi Anda Sekaligus. Kami dapat pahami banyak pengetahuan mengenai rombongan-rombongan lain”.

Pada dalam itu, rombongan seni opera Cheo classic Phu Tho, Vietnam mengemukakan irama-irama lagu rakyat Xoan, macam seni yang telah mendapatkan pernyataan dari UNESCO jadi pusaka budaya nonbendawi dari umat manusia pada beberapa pemirsa. Saudara Ngo Minh Toan, Kepala Rombongan Seni Operasi Cheo Classic propinsi Phu Tho memberitahu: “Festival ini adalah peluang yang langka buat kami untuk menjumpai kebudayaan-kebudayaan yang ciri khas di dunia atau di wilayah ibu kota kuno Hue, Kami sukses belajar beberapa hal, lakukan banyak pergaulan sebab di tiap negara atau di tiap rombongan kesenian punyai banyak ciri yang ciri khas dari beberapa ciri yang ciri khas itu, kami bisa belajar mengenai jati diri kebudayaan tradisionil dari tiap wilayah, tiap negara supaya beberapa artisan serta seniman-seniwati kami belajar langkah mengkonservasikan serta menaruh nilai-nilai budaya nonbendawi tradisionil lagu rakyat Xoan dari kampung halaman kami”.
Kalau panggung-panggung nyanyian serta tarian tradisionil mengenalkan tarian serta nyanyian yang ciri khas dari tiap negara serta tiap bangsa, karena itu panggung musik kontemporer meniupkan satu arus angin yang penuh dengan daya serta daya muda pada situasi festival itu. Massa rakyat dapat lihat interferensi kebudayaan di antara semua bangsa. Seniwati Greta Kelly, anggota ansambel musik Deep Blue dari Australia menjelaskan: “Ketika hadir ke Vietnam serta Festival Hue, kami sudah pilih serentetan nakah musik yang bawa irama benua Asia serta satu lagu Vietnam yakni lagu Ly ngua o. Saat belajar lagu ini, pertama kali kami rasakan paling suka adalah dalam musik tradisionil Vietnam terdapat beberapa irama getar dimana naskah musik ini sudah ditampilkan pada tahun 1970. Saya sudah memakai piranti lunak untuk perlambat naskah musik itu untuk dapat dengarkan semua irama getar itu. Saya begitu suka pada irama getar dalam musik tradisionil Vietnam”.

Pada Festival Hue pertama yang diselenggarakan pada tahun 2000, ada keterlibatan dari 30 rombongan kesenian Vietnam serta Perancis. Sesudah 7 kali penyelenggaraan festival, angka ini sudah bertambah 2x lipat. Menurut Valeriu Arteni, Duta Besar Rumania di Vietnam, ini sudah menunjukkan jika Festival Hue sudah sukses membuat daya tarik pada teman dekat internasional, bertepatan itu, memanifestasikan hasil-guna kebijaksanaan teranekaragamkan serta teraneka-arahkan yang digerakkan oleh Vietnam bukan sekedar di bagian politik saja, dan juga di bagian kebudayaan. “Partisipasi semua rombongan kesenian dari banyak negara kesempatan ini adalah satu rekor. Terdapat beberapa rombongan yang hadir dari beberapa negara yang jauh seperti Amerika Latin, Eropa dan sebagainya. Hal tersebut menunjukkan jika jalinan kebudayaan di antara Vietnam dengan beberapa negara berkembang dengan kuat serta kebudayaan Vietnam hadir ke beberapa negara ini makin semakin banyak. Vietnam diketahui jadi satu negara yang punyai kebudayaan ciri khas, menyerap perhatian dunia dengan makin semakin banyak lagi”.
Melalui setiap saat festival, Festival Hue makin jadi satu panggung yang baik serta atraktif buat rombongan-rombongan kesenian internasional untuk ikut juga, lalu, saat berpisah, kebanyakan orang berpikir-pikir mengenai jamuan kesenian dalam jalinan antar-bangsa serta antar-negara.
logoblog

Thanks for reading Kesan-kesan pada kesenian multi-etnis dalam Festival Hue

Previous
« Prev Post