Thursday, May 9, 2019

Budaya pas tanam sawah terasering di wilayah pegunungan Vietnam Utara

  9nagaasia       Thursday, May 9, 2019
Wilayah pegunungan Vietnam Utara adalah satu sumber ilham penciptaan yang tidak habis-habisnya buat beberapa photografer. Itu ialah satu wilayah yang masih primitif serta beralam istimewa dalam perjalanan penemuan dari beberapa fans wisata. Siapapun yang sempat hadir kesini bukan sekedar berkesan mengenai satu wilayah pegunungan yang beralam istimewa, tetapi tidak dapat lupa akan sawah-sawah terasering yang terdapat di tengahnya lembah-lembah atau lereng gunung. Sawah terasering sudah jadi satu diantara ciri budaya yang ciri khas dari tiap komune etnis minoritas di wilayah pegunungan Vietnam Utara.
Sawah terasering di daerah pegunungan Vietnam Utara

Riwayat terbentuknya sawah terasering berkaitan dengan riwayat pemukiman rakyat etnis minoritas di wilayah pegunungan Vietnam Utara. Nilai budaya sawah terasering dimanifestasikan pada pengalaman pas tanam, rutinitas berproduksi serta pembentukan sawah-sawah terasering tiap etnis. Sawah-sawah terasering memanifestasikan ciri budaya pas tanam di sawah tiap komune rakyat etnis minoritas di Vietnam Utara. Khoang Van Tien, masyarakat etnis minoritas Thai Putih propinsi Dien Bien memberitahu: “Dari jaman dulu, kami miliki kebiasaan membuahkan padi sawah. Rakyat etnis minoritas hadir ke mana saja tetap bersawah. Tanah-tanah yang tidak dapat dipakai, kami memakainya untuk menanam padi sawah”.

Diberi nama sawah terasering, sebab sawah ini punyai banyak teras, tiap teras ialah satu sawah yang kecil, semua teras sambung-menyambung, makin banyak teras makin memanifestasikan tehnik pas tanamdari pemiliknya. Sawah terasering disambungkan dari yang tinggi ke yang rendah sesuai tempat topologinya serta bermacam-macam. Sebab di wilayah pegunungan, karena itu tanah pas tanam yang rata begitu langka, karena itu beberapa penanam padi sudah menanganinya dengan pilih lereng bukit serta gunung untuk membuat sawah-sawah terasering ini, itu adalah kekreatifan hingga membuat beberapa hal yang langka ada pada peradaban padi sawah Vietnam. Saudara Giang A Pua, masyarakat etnis minoritas H’Mong di propinsi Ha Giang memberitahu: “Pembukaan tanah ialah waktu yang paling susah, mengonsumsi banyak tenaga. Harus pilih tempat yang tidaklah terlalu miring serta dikit kerikil. Tempat yang terdapat beberapa rumput atau pohon yang besar ialah tempat yang baik”.

Sesudah sawah-sawah terasering sudah sukses dibuka, karena itu permasalahan melakukan perbaikan jadi sawah yang dapat ditanami padi teramat penting. Pekerjaan pertama proses dari ini adalah membuat aliran air untuk sawah yang barusan dibuka. Saudara Luong Van Thiet, periset dari Museum Etnologi Vietnam memberitahu jika pembuatan aliran air, pada intinya dikerjakan oleh golongan lelaki, mereka harus melakukan perbuatan bagaimana supaya air dapat mengalir ke sawah dengan permanen serta terus-terusan sepanjang menanam padi. Air dialirkan dari sawah yang tinggi ke sawah yang rendah, tiap sawah adalah beberapa dari aliran air yang spesial ini. Buat sawah yang dipunyai oleh beberapa orang, karena itu pembelaan, pengendalian serta pembagian sumber air dipikul bersama.

Pembukaan tanah serta penanaman padi dilanjutkan dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi hingga sawah-sawah terasering ini kelihatannya jadi satu gambar artistik yang istimewa di lereng-lereng bukit.Dengan pembentukan sawah-sawah terasering, sepanjang beberapa ratus tahun ini, menurut proses pemukiman tinggal serta penanaman padi sawah, karena itu rakyat beberapa etnis di wilayah pegunungan Vietnam Utara sudah makin lama makin tercipta banyak kegiatan kebudayaan, pesta tradisi tradisionil yang berkaitan dengan kegiatan produksi pertanian. Malah ini adalah jiwa budaya yang ciri khas dalam kehidupan rakyat beberapa etnis minoritas. Saudari Thao Thi Do, etnit minoritas H’Mong, kecamatan La Ban Tan, kabupaten Mu Cang Chai, propinsi Ha Giang memberitahu: “Rakyat etnis minoritas H’Mong memisalkan sawah terasering jadi tumbu gabah yang berharga. Tumbu itu jadi paling indah saat air penuh di sawah terasering ini. Saat pagi berwarna hijau, lalu berwarna kuning begitu indah. Saat cukuplah padi untuk keperluan pangan, kami rasakan begitu gembira”.
Disaksikan dari pojok mana saja, sawah terasering memiliki berbagai macam keindahan berbeda. Pada bulan Oktober, yakni waktu panenan, sawah-sawah padi yang berwarna kuning memberi tanda-tanda mengenai satu waktu tanam yang sukses. Yang berselang-seling dengan warna kuning dari padi ada sawah-sawah terasering yang masih beralih ke warna hijau-kuning. Semua seperti satu pemandangan warna-warni yang hidup-hidup hingga membuat keindahan dari wilayah pegunungan Vietnam Utara, beberapa tempat pemukiman rakyat etnis-etnis minoritas Thai, H’Mong dan sebagainya.
logoblog

Thanks for reading Budaya pas tanam sawah terasering di wilayah pegunungan Vietnam Utara

Previous
« Prev Post